Salah seorang petani cabai rawit asal Desa Suro Lembak ,Kecamatan Ujan Mas , Yadi (50) menyampaikan, pada tingkat petani yang cabainya dijual ke pengepul saja, harganya bisa diangka Rp 60 ribu sampai dengan Rp 65 ribu per Kilogram. Artinya, sesampainya di pasar, harga komoditas tersebut tentu akan mengalami kenaikan.
Namun, tambah menyalanya harga cabai ini biasanya lantaran komoditas tersebut produksinya berkurang. "Kurangnya produksi komoditas cabai saat ini dikarenakan dampak dari kemarau panjang ini . Jadi banyak petani gagal tanam akibat kekeringan.Walaupun hasil panen sedikit, cabai ada harganya. Dan kini musim kemarau buah cabe cepat masak masa panen lebih cepat dibandingkan saat penghujan," ujar Yadi Kepada Jurnal Kepahiang pada Jum'at 23 Oktober 2026
Baca Juga:Bawa Visi Perubahan, Riki Pebri Yandi,S.Pd.i Siap Bangun Desa Suka Merindu Yang Lebih BaikLanjut Yadi, tidak hanya komoditas cabai rawit merah saja namun cabe rawit masih hijau pun masih tinggi harganya. Begitu pula cabe keriting merah lokal juga sedang bagusnya harga. jenis cabai rawit dan cabai rawit merah atau cabai setan itu sangat susah juga perawatan hamanya di musim kemarau . Penyakit berupa layu, terkena keriting daun serta terkena jamur antarknosa atau patek.
"Apalagi kalau jenis cabai setan atau cabai rawit merah besar, itu harganya bisa mencapai Rp 60 ribu per Kilogram saat ini, itu harga di tingkat pengepul saja. Kalau eceran juga delivery lebih lagi harganya. Kita jual kurang lebih setiap panennya 100 kilo gram ", jelas Yadi.
Dia menambahkan, sekarang ini dirinya menanam cabai dengan luas kurang dari 3000 batang atau 1 rol setengah .
Dengan harga jual cabai yang ada saat ini, menurutnya ini sangat menguntungkan. "Namun untuk bertani cabai, perlu perawatan ekstra, akan kesulitan kalau cuaca panas dan ditambah lagi pupuk dan insektisida mahal semua . Jadi kami sebagai petani sangat mengharapkan sekali bantuan pupuk dan obat-obatan dari pemerintah ," tutup Yadi ( ptr )




